SIMONIDES, Sang Penyair Dari Yunani

Simonides dilahirkan pada tahun 556 SM, ketika zaman Mitologi (zaman tentang dewa-dewi/kepahlawanan di masa lampau) sudah lama berlalu. Namun, syair-syair hasil karya Simonides, Sang Penyair dari Yunani, yang bertemakan mitologi itu masih mampu memukau banyak orang.

Seperti halnya para penyair pada masa itu dan sebelumnya, Simonides juga tinggal di istana raja. Setelah mengunjungi Raja Hipparchus di istana Athena, ia kemudian tinggal di istana Raja Scopas. Di istana Raja Scopas inilah ia mengalami suatu peristiwa menakjubkan, yang membuat namanya semakin dikenal orang sampai saat ini.

Lanjut BacaSIMONIDES, Sang Penyair Dari Yunani

Kisah Tujuh Pangeran Gagak (Bagian 2)

Pada suatu hari, tanpa sengaja, Gadis Kecil itu mendengar percakapan para tetangganya. Ternyata mereka sedang membicarakan dirinya.

Gadis yang sangat baik hati, ramah. Sangat cantik. Tapi, bagaimanapun, dia adalah penyebab hilangnya ketujuh kakak laki-lakinya,” ujar salah seorang tetangganya.

Sungguh terkejut gadis kecil itu. Apa? Dia mempunyai kakak? Kakak laki-laki? Bukan hanya seorang, tapi TUJUH orang!! Dan?..Apa kata para tetangga tadi? Dia adalah penyebab semua kakaknya menghilang?..Sedikit pun dia sama sekali tak mengetahui akan hal ini. Mengapa Ayah dan Ibu tak pernah memberitahu hal ini kepadanya?

Perasaannya berkecamuk. Serta merta, dengan bergegas, dijumpainya kedua orang tuanya. Dengan memohon, Gadis Kecil itu meminta kedua orang tuanya berterus terang akan apa yang telah terjadi.

Aku akan mati menderita bila ayah dan ibu tetap merahasiakan hal ini dariku. Kumohon, Ayah, Ibu..Ceritakanlah kepadaku,” ujarnya memohon.

Karena merasa tak ada gunanya menutupi rahasia itu lagi, akhirnya, kedua orang tuanya menceritakan segalanya. Ayahnya meminta kepadanya untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri, hal itu terjadi karena kehendak alam.

Namun, setelah mendengar segalanya, Gadis Kecil itu semakin bertambah sedih. Dia sering menangis dan menyesali kelahirannya. Semua itu takkan terjadi bila dia tak terlahir di dunia ini. Gadis itu selalu mengingat dan membayangkan penderitaan yang dialami oleh ketujuh kakaknya.

Dia pun bertekad untuk mencari ketujuh kakaknya. Dia akan berusaha mencari segala cara untuk membebaskan kutukan yang mengenai ketujuh kakaknya agar dapat kembali menjadi manusia, dan akan membawa mereka kembali pulang ke rumah.

Akhirnya, beberapa hari kemudian, Gadis Kecil itu meninggalkan rumah, mencari ketujuh kakaknya. Dengan hanya berbekal sebentuk cincin orangtuanya, sebuah pisau lipat, seiris roti untuk penahan lapar, sebotol kecil air untuk penahan haus dan sebuah kursi kecil untuk berisitirahat jika ia merasa lelah, Gadis Kecil itu berjalan sampai ke ujung dunia tanpa mengenal lelah.

Lanjut BacaKisah Tujuh Pangeran Gagak (Bagian 2)

Kisah Tujuh Pangeran Gagak (Bagian 1)

Dahulu kala, hiduplah seorang pria bersama istri dan ketujuh orang anak. Semuanya anak laki-laki yang penurut dan baik hati.  Pria itu dan istrinya sangat berharap bahwa di satu hari nanti, mereka akan dikarunia seorang anak perempuan.

Tak pernah mereka menyangka ketika akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka. Betapa gembira hati pria itu. Istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi yang sangat cantik.

Tapi, bayi perempuan itu sangat mungil, kecil, dan rapuh. Layaknya sehelai kertas, bayi itu dengan mudahnya dapat diterbangkan oleh hembusan angin yang tidak terlalu kencang. Meski demikian, pria itu sangat bahagia karena akhirnya ia memiliki seorang anak perempuan.

Pada suatu hari, pria itu hendak membaptis putri mereka. Sambil memberikan sebuah bejana kepada salah satu anak laki-lakinya, pria itu menyuruh ketujuh anak laki-lakinya mencari air di sebuah mata air, di kaki gunung. Tanpa menunggu lama, ketujuh anak laki-laki yang penurut itu segera berlari menuju gunung sesuai yang dikehendaki ayah mereka.

Lanjut BacaKisah Tujuh Pangeran Gagak (Bagian 1)

Thumbelina (Bagian 4 – Tamat)

“Musim panas ini, engkau harus menjahit pakaianmu,” kata Tikus Sawah. Tetangganya, Si Tikus Tanah yang menyebalkan, telah meminang Thumbelina untuk menjadi istrinya. “Nanti, kau akan memiliki pakaian dari wol dan sutra. Kau akan memiliki segala-galanya.”

Sebelum Thumbelina menjahit pakaian, Tikus Sawah menyuruh empat ekor laba-laba untuk memintal benang dan menenunnya siang dan malam.

Setiap sore, Tikus Tanah datang berkunjung. Ia selalu bercerita tentang akhir musim panas di mana matahari sudah tiak begitu panas, saat perkawinannya dengan Thumbelina akan dilangsungkan. Thumbelina sama sekali tidak merasa senang. ia sama sekali tidak mencintai Tikus Tanah yang menyebalkan itu. Setiap pagi, di saat matahari terbit, dan setiap sore matahari terbenam, Thumbelina pergi ke luar. Bila angin menyibakkan pucuk-pucuk jerami, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa langit berwarna biru dan jernih. Sebenarnya ia sangat merindukan burung layang-layang. Tetapi, burung itu tak pernah datang lagi. Burung itu pasti sudah terbang jauh ke hutan.

Ketika musim gugur tiba, gaun pengantin Thumbelina sudah jadi.

“Empat minggu lagi, hari perkawinanmu” kata Tikus Sawah. Thumbelina menangis sambil berkata bahwa ia tidak menyukai Tikus Tanah yang menyebalkan itu.

“Apa?” tanya Tikus Sawah. “Kalau menolak, aku akan membunuhmu! Calon suamimu itu sangat hebat, bahkan ratu pun tidak memiliki beludru semacam itu. Ia punya dapur dan gudang anggur. Kau harusnya bersyukur karenanya.”

Pesta perkawinan akan segera dilangsungkan. Tikus Tanah datang menjemput Thumbelina. Sejak saat itu, ia harus tinggal dengan suaminya di dalam tanah. Ia tidak akan dapat lagi menikmati sinar matahari. Gadis malang itu benar-benar menderita. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada matahari yang indah. Di rumah Tikus Sawah, emskipun hanya sebentar, ia masih diizinkan melihatnya dari pintu.

Lanjut BacaThumbelina (Bagian 4 – Tamat)

Thumbelina (Bagian 3)

Tikus Tanah membawa sepotong sumbu dengan mulutnya. Sumbu itu bersinar dalam kegelapan. Ia berjalan di depan Tikus Sawah dan Thumbelina , menerangi mereka di lorong yang gelap itu. Ketika mereka tiba di tempat bangkai burung itu tergeletak, Tikus Tanah mengangkat hidung besarnya sampai menyentuh langit-langit. Gerakannya itu mengakibatkan timbulnya suatu lubang besar yang dapat dilalui cahaya.

Di tanah tergolek seekor burung layang-layang yang sudah tak bernyawa. Sayapnya yang indah lengket di tubuhnya. Kaki serta kepalanya tersembunyi di bawah bulunya. Burung malang itu pasti mati karena kedinginan. Melihat hal itu, Thumbelina merasa kasihan. Ia sayang kepada semua jenis burung kecil. Bukankah sepanjang musim panas mereka telah bernyanyi dan berkicau merdu untuknya?Tikus Tanah menyepak bangkai burung itu sambil berkata, “Dia sudah tidak dapat bernyanyi lagi. Ah! Alangkah sedihnya lahir sebagai seekor burung kecil. Syukurlah, anak-anakku nanti tak akan ada yang seperti burung ini. Burung kecil seperti ini hanya dapat bercuit-cuit dan akhirnya mati kelaparan bila musim dingin tiba.”

“Ya, kau benar! Kau memang pandai meramal! Burung itu mungkin mati karena lapar dan kedinginan tetapi setidaknya kicaunya benar-benar istimewa!” kata Tikus Sawah membenarkan.

Thumbelina tidak berkata apa-apa. Begitu kedua tikus itu membalikkan punggungnya, ia membungkuk, menyingkap bulu-bulu yang menutupi kepala si burung layang-layang. Ia mencium kedua matanya yang tertutup. “Barangkali, burng inilah yang telah bernyanyi merdu untukku selama musim panas,” kata Thumbelina pada dirinya sendiri. “Betapa besarnya kegembiraan yang telah kau berikan, wahai, Burung yang cantik!”

Tikus Tanah kemudian menyumbat lubang cahaya itu. Thumbelina dan Tikus Sawah mengantarkan Tikus Tanah sampai ke tempat tinggalnya.

Malam harinya, Thumbelina tidak dapat tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menganyam sebuah selimut yang indah dari jerami untuk si burung yang mati. Setelah selesai, ia kembali ke lorong yang menghubungkan rumah Tikus Sawah dan Tikus Tanah. Sambil membawa sumbu yang menyala, ia menuju ke tempat bangkai burung layang-layang berada. Ketika sampai ke tempat bangkai burung itu tergeletak, segera diselimutinya sekeliling burung yang malang itu dengan selimut jerami dan sepotong kain yang dibawanya dari rumah Tikus Sawah. “Selamat tinggal, Burung kecil yang manis,” katanya kepada bangkai burung itu. “Selamat tinggal. Terima kasih untuk lagu-lagumu yang merdu selama musim panas ini di mana pohon-pohon menghijau dan matahari yang bersinar hangat.”

swallow-899079_1280

Lanjut BacaThumbelina (Bagian 3)