Tragedi di Puraseda eps. 1 : masa lalu membawa duka

Saktika lari tunggang langgang. Tersuruk, limbung. Sesekali menabrak apa yang saja yang menghalangi langkah seribunya. Nafasnya tersengal-sengal. Degup jantungnya berdegup cepat. Berirama kematian.

Hujan lebat merintik meski sesekali masih terdengar suara guruh dan kilat yang bersahutan. Dari sela-sela rintik gerimis, sesekali Saktika menengok ke belakang memastikan keberadaan para pengejarnya.

Baju putih berlengan panjang juga celana panjang hitam yang dipakainya terkoyak. Baju dan tubuhnya kuyup oleh air dan darah. Cairan kental berwarna merah gelap masih keluar dari hidung dan pelipis kirinya.

Beruntung ia masih dapat melarikan diri dari para pengawal Ki Wisakarma yang datang mendatanginya tadi pagi.  Beruntung?..Benarkah ia beruntung, batinnya dalam hati. Bukankah semestinya ia lebih baik mati?..Tak pernah sekalipun ia membayangkan, hari di mana ia akan melepas masa bujang berganti menjadi hari yang paling menakutkan selama hidupnya.

Laras. Badan Saktika bergetar hebat ketika terbayang kembali bayangan calon istrinya yang berkubang darah. Senyum bahagia perempuan itu hilang berganti mimik takut dan kesakitan. Kebaya putih yang dikenakannya berubah menjadi warna merah, berbalut darah. Darah memercik di mana-mana. Di dinding. Di lantai. Di langit-langit. Di hiasan-hiasan. Di janur. Di pelaminan.

geranium-101424_640

Pagi itu, seharusnya dia telah memulai kehidupan barunya, menjadi seorang suami. Tetapi, belum sempat Saktika mengucap ikrar yang membuatnya sah menjadi suami Laras, tiba-tiba terdengar ramai derap sekelompok kaki kuda berhenti di depan rumah mempelai wanita. Belum habis rasa terkejutnya juga mereka yang hadir dalam acara tersebut, jeritan tangis dan lolongan kesakitan ramai bersahutan mengalahkan suara degung yang memainkan tembang sedari malam.

Semua yang ada di dalam rumah terkejut. Sebagian berlari menuju ke pekarangan rumah yang telah penuh oleh para tamu undangan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tertegun mereka menyaksikan para tamu undangan yang telah roboh, bersimbah darah.

Belum selesai akal mereka menerima apa yang dilihatnya, sabetan pedang, cambuk bergerigi, sentuhan sisir, hunusan golok, juga ayunan kapak membuat mereka membawa pertanyaan-pertanyaan itu ke kehidupan baka.

Saktika langsung mengenali kelima orang tamu itu. Mereka adalah para penunggang kuda yang barusan tiba. Empat pria dan satu wanita. Bagaimana Saktika tidak sampai mengenalinya? Mereka adalah orang-orang terdekatnya sedari kecil, terutama yang wanita.

Asih, Nyi Asih. Wanita itu adalah salah satu wanita yang paling dekat dengannya sedari kecil. Biasanya, dulu, wanita itu akan memandangnya dengan sinar mata yang penuh kasih. Siapa sangka? Dendam dan sakit hati membuat wanita itu menjadi kejam dan telengas. Saktika ternganga melihat kelima orang itu.

Memang, mereka adalah orang-orang terdekatnya. Tapi, itu dulu. Dan, Saktika memang tidak mengundang mereka untuk ikut merayakan hari bahagianya. Karena, Saktika memang berniat untuk meninggalkan kehidupan di masa lalunya.

Saktika seketika tersadar akan ingatan masa lalunya, ketika ia mendengar Laras mengeluh panjang dan roboh seketika. Pedang Wistara telah menghunus bagian dada wanita yang hampir menjadi istrinya itu. Darah segar bersimbur, mengotori kebaya putihnya.

Sekejap, Saktika langsung meloncat menuju Laras yang sudah tergeletak roboh. Tapi, hunusan pedang juga sambutan senjata-senjata lain dari penyerangnya membuat Saktika tidak sempat untuk mendapati Laras. Dilihatnya, calon mertuanya, juga para tetua-tetua dalam keluarga yang hadir di sana, semua sudah roboh dengan luka yang mematikan.

Sejak awal membuka hari, pagi itu memang tidaklah teramat cerah. Matahari seakan menyembul malu-malu dihalangi awan. Meski suasana di rumah orang tua Laras pagi itu diiis oleh kebahagiaan dan keceriaan, tetapi sejak subuh, sebenarnya mendung tebal telah bergayut di ujung langit utara. Alam seakan telah mengetahui, hari itu, di salah satu sudut desa Puraseda, keceriaan sekejap akan segera berganti duka.

Angin dingin berhembus. Dinginnya terasa sangat menusuk hati dan tubuh Saktika. Hatinya serasa tertutup kabut yang sangat tebal. Terasa beku oleh rasa sedih yang teramat. Juga rasa sakit hati dan marah.

Kemampuan bermain pedang Saktika termasuk yang mumpuni. Bisa dibilang keahliannya setara dengan kelima orang terdekatnya dahulu itu. Tetapi, saat itu, Saktika berhadapan sekaligus dengan kelimanya. Bagaimanapun, Saktika merasa kewalahan. Meski demikian, Saktika pun memiliki naluri manusia; mempertahankan hidup. Naluri itulah yang mendorong Saktika tetap melawan serangan demi serangan yang diberikan dari ke lima orang terdekatnya dahulu itu.

Seakan turut menjadi saksi kekejaman yang terjadi, awan tebal yang sedari subuh menggayut di angkasa menumpahkan tangisnya. Sangat deras. Gemuruh dan kilat pun seakan murka. Alam seakan ikut marah atas kekejaman manusia yang mereka saksikan.

Pertempuran sengit yang terlihat sama sekali tak seimbang itu berlangsung di tengah guyuran dan kilat yang menyambar-nyambar disertai gemuruh yang bersahut-sahutan.

***

Sampai selepas tengah hari, pertempuran tersebut masih berlangsung. Daerah pertempuran tidak lagi di rumah orang tua Laras tetapi sudah keluar dari desa Puraseda.

Saktika yang telah mendapat luka di beberapa bagian tubuhnya masih terus melawan. Meski akhirnya, dia pun melarikan diri dan tetap dikejar oleh kelima orang itu.

***

Gerimis mengiringi datangnya malam mengganti hari. Malam bagaikan tabir gelap yang turun perlahan menyertai langkah Saktika yang semakin terhuyung ketika ia sampai di tepi tegalan. Tangannya meraba ke bagian perut. Terasa oleh telapak tangannya cairan kental yang hangat. Saktika mahfum, perutnya telah sobek terkena sabetan cambuk berduri milik Begawan Gadamadana. Beberapa tulang rusuknya pastilah patah. Masih untung dia masih bisa bertahan dengan luka-luka yang dideritanya itu .

Saktika mengenal ilmu-ilmu yang dimiliki oleh para penyerangnya tadi. Bagaimana tidak? Dulu, ia termasuk salah satu murid Ki Wisakarma. Berlatih bersama mereka.Tujuh tahun lalu..

Yup, tujuh tahun lalu, sebelum akhirnya dia pindah ke tempat ini dan memulai hidup baru. Tak disangka, Ki Wisakarma ternyata tak melepaskannya begitu saja.

Lalu..Laras?..Laras?

Seketika pandangannya mengabur. Pepohonan seperti menari dalam kegelapan. Dada dan kepalanya berdenyut, sakit bukan kepalang. Punggungnya panas serasa terbakar. Sisir Bidadari Nyi Asih telah melukai punggungnya, Sisir itu bukan sisir biasa. Sisir itu beracun, mematikan di setiap ujungnya.

Saktika terhuyung. Masih berusaha untuk berlari. Napasnya semakin tersengal. Suara kuda yang ditunggangi para pengejarnya terdengar semakin dekat.

Nyi Asih..Laras..Kedua wajah wanita itu berkelebatan di kedua matanya. Tetes hujan kini berganti dengan guyuran air yang sangat deras. Dingin dan gelap tanpa penerang, Saktika terus berlari terseok-seok di tegalan yang dipenuhi oleh pohon jagung dan kacang-kacangan.

Nyi Asih..Wajah cantik wanita itu membayang di kedua matanya. Sampai saat ini pun, Saktika masih merasa heran dan bingung, mengapa pancaran mata penuh kasih dari wanita tersebut seketika berganti dengan mimik kejam dan penuh benci? Masih terbayang ketika Nyi Asih berusaha mengenai rambut dan kepalanya dengan sisir beracun itu.

Saktika yang serta merta melawan membuat serangan sisir NYi Asih meleset, tidak mengenai kepala dan rambutnya, tetapi mengenai punggungnya. Menurut hematnya, sisir beracun itu geriginya terbuat dari jarum-jarum perak beracun. Ketika menyerang, jarum-jarum itu akan menempel pada bagian tubuh yang dikenai. Biasanya, hanya dalam hitungan jam, orang yang terkena jarum dari sisir beracun itu akan kehilangan nyawanya. Saktika paham betul akan kondisinya.

Tulang rusuk yang patah, punggung yang terkena racun, dan beberapa anggota tubuh lainnya telah terkena serangan dari orang-orang terdekatnya dahulu membuat tenaganya terkuras habis.

Larinya semakin gontai. Saktika pasrah ketika didengarnya derap kaki kuda semakin mendekat. Tubuhnya kemudian semakin limbung..Dalam gelap, dia melihat pepohonan jagung yang meliuk-liuk seperti tengah menari dengan gemulai. Tanah yang dipijaknya terasa bergoyang, seperti berdiri di atas ombak.

Saktika pun tak dapat menahan lagi ketika tubuhnya luruh, berguling-guling jatuh, lalu diam. Dan, gelap menyelimuti sekitarnya.

***

(bersambung)

Leave a Comment