SIMONIDES, Sang Penyair Dari Yunani

Simonides dilahirkan pada tahun 556 SM, ketika zaman Mitologi (zaman tentang dewa-dewi/kepahlawanan di masa lampau) sudah lama berlalu. Namun, syair-syair hasil karya Simonides, Sang Penyair dari Yunani, yang bertemakan mitologi itu masih mampu memukau banyak orang.

Seperti halnya para penyair pada masa itu dan sebelumnya, Simonides juga tinggal di istana raja. Setelah mengunjungi Raja Hipparchus di istana Athena, ia kemudian tinggal di istana Raja Scopas. Di istana Raja Scopas inilah ia mengalami suatu peristiwa menakjubkan, yang membuat namanya semakin dikenal orang sampai saat ini.

Peristiwa ini bermula ketika Raja Scopas meminta kepada Simonides untuk dibuatkan syair yang mengisahkan kehebatan dirinya. Syair itu nanti akan dibacakan dalam sebuah pesta besar. Simonides menyanggupi permintaan itu, karena waktu yang disediakan cukup lama, yaitu tiga bulan.

Namun, Simonides, Sang penyair dari Yunani, yang berwatak bijak ini merasa muak melihat keangkuhan Raja Scopas. Menurut Simonides, Raja Scopas sama sekali tak pernah berbuat kebajikan dalam hidupnya. Bahkan, selama memerintah, ia selalu bertindak sewenang-wenang dan gemar menghamburkan uang kerajaan demi kepentingan pribadi.

Akhirnya, Simonides membuat syair pesanan Raja Scopas. Isi syairnya memang tentang kepahlawanan tetapi tokohnya bukanlah Raja Scopas. Ia sengaja mengambil tokoh dari legenda Castor dan Pollux, Si Kembar putra Leda. Karena, menurut Simonides, tak ada seorang pun yang mampu menandingi kesempurnaan seorang dewa, baik dalam ucapan maupun perilakunya.

Saat itu, Simonides berpikir untuk menghancurkan kesombongan Raja Scopas. Dalam syair gubahannya, Simonides mengejek kecongkakan seorang manusia yang merasa dirinya paling sempurna di muka bumi ini.

simonides, sang penyair dari yunani
foto dari www.pixabay.com

Simonides menuliskan dalam syair gubahannya bahwa pujian-pujian yang diberikan kepada seorang raja hanyalah pujian yang tidak jujur, hanya berniat mengambil hati dan menyenangkan hati raja saja. Seharusnya, seorang raja yang menerima pujian seperti itu, tidak menjadi semakin angkuh dan menganggap dirinya seorang pahlawan besar.

Tulisnya lagi, pujian kosong semacam itu kelak akan menghancurkan dirinya sendiri. Raja seharusnya berusaha menjadi orang yang bijaksana karena sesungguhnya ia hanyalah seorang abdi rakyat. Dengan mengisahkan kepahlawanan Castor dan Pollux, Simonides mengakhiri tulisannya.

Pesta penghormatan atas jasa besar Scopas, akhirnya tiba. Simonides berdiri di tengah ruangan pesta. Sementara, Raja Scopas duduk di singgasananya nampak bangga dengan pakaian kebesarannya. Ia duduk sambil membusungkan dada, wajahnya berseri-seri karena bahagia.

Sebentar lagi, Simonides, Sang Penyair besar dari Yunani, negeri yang dipimpinnya, akan memuji kehebatan dirinya sebagai seorang raja dalam sebuah syair. Ia telah menjanjikan hadiah bagi Simonides. Dan, kini, ia telah mengambil keputusan untuk melipatgandakan hadiah itu.

Namun, ketika Simonides membacakan syairnya sampai kepada kecaman-kecaman kepada raja dan memuji kepahlawanan Castor dan Pollux, wajah Raja Scopas berubah menjadi masam. Ia menjadi geram dan marah. Apalagi, dalam syairnya, Simonides samasekali tak menyebut Raja Scopas. Tentu saja, hal ini, membuat para menteri dan pejabat istana menjadi geram pula.

Mereka merencanakan untuk membunuh Simonides yang telah berani menghina raja mereka. Namun, sebagian besar para tamu yang terdiri atas wakil-wakil rakyat bertepuk tangan memuji syair karya Simonides. Mereka berpendapat, syair gubahan itu sebagai gubahan terindah dan mengagumkan. Bahkan, rakyat banyak yang berkumpul di luar ruang pesta bersorak-sorai gembira. Mereka mengelu-elukan Simonides,  Sang Penyair dari Yunani.

Usai pembacaan syair itu, Raja Scopas berdiri untuk memberikan hadiah kepada Simonides sambil berkata, “Wahai, Simonides, gubahan syairmu tadi sungguh buruk sekali. Maka, hadiah yang akan kuberikan ini hanya separuh dari yang telah kujanjikan.”

“Terima kasih,” ujar Simonides, “walau cuma separuh dari yang dijanjikan oleh seorang raja yang gagah berani, saya akan tetap menerimanya dengan ikhlas. Castor dan Pollux sudah mengganti yang separuhnya, karena, di masa lalu, kedua pahlawan itu terkenal tak pernah ingkar janji.”

Simonides kemudian membungkuk hormat kepada Raja Scopas dan kembali ke tempat duduknya. Sementara itu, para wakil rakyat yang merasa tak puas dengan sikap Raja Scopas terhadap Simonides, segera keluar meninggalkan ruangan pesta.

Beberapa saat kemudian, datang seorang pengawal yang mengatakan bahwa di luar ada dua orang penunggang kuda ingin bertemu dengan Simonides, Sang Penyair dari Yunani. Simonides bergegas keluar. Namun, keduanya telah pergi, yang nampak hanyalah kedua punggungnya dari belakang.

Tentu saja Simonides menjadi heran. Apa gerangan yang mereka inginkan? Simonides bertanya kepada pengawal tadi. Kata pengawal itu, wajah kedua orang yang datang menunggang kuda tadi seperti saudara kembar.

Tiba-tiba, Simonides mendengar suara gemuruh di belakangnya. Seketika ia membalikkan tubuhnya. Tampak olehnya, gedung tempat pesta itu sedang berlangsung, ambruk. Raja Scopas dan para menterinya ikut terkubur hidup-hidup di sana. Ya, Raja Scopas telah terkubur di sana bersama keangkuhannya. Simonides hanya dapat menghela nafas melihat peristiwa itu. Ia merasa seakan-akan telah diselamatkan oleh dua orang penunggang kuda misterius, yang diyakininya sebagai penjelmaan Castor dan Pollux.

***

^_^

*> gambar dari sini

Leave a Comment