Kisah Tujuh Pangeran Gagak (Bagian 1)

Dahulu kala, hiduplah seorang pria bersama istri dan ketujuh orang anak. Semuanya anak laki-laki yang penurut dan baik hati.  Pria itu dan istrinya sangat berharap bahwa di satu hari nanti, mereka akan dikarunia seorang anak perempuan.

Tak pernah mereka menyangka ketika akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka. Betapa gembira hati pria itu. Istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi yang sangat cantik.

Tapi, bayi perempuan itu sangat mungil, kecil, dan rapuh. Layaknya sehelai kertas, bayi itu dengan mudahnya dapat diterbangkan oleh hembusan angin yang tidak terlalu kencang. Meski demikian, pria itu sangat bahagia karena akhirnya ia memiliki seorang anak perempuan.

Pada suatu hari, pria itu hendak membaptis putri mereka. Sambil memberikan sebuah bejana kepada salah satu anak laki-lakinya, pria itu menyuruh ketujuh anak laki-lakinya mencari air di sebuah mata air, di kaki gunung. Tanpa menunggu lama, ketujuh anak laki-laki yang penurut itu segera berlari menuju gunung sesuai yang dikehendaki ayah mereka.

Hari begitu cerah saat itu. Dengan hati yang gembira, mereka pergi ke gunung. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mereka bernyanyi dan tertawa; saling mendorong dan bersenda gurau.

Karena bergurau dan saling mendorong, tanpa sengaja, bejana yang dibawa oleh salah seorang anak laki-laki itu terjatuh. Bejana itu pecah. Mereka terkejut dan saling memandang. Sedih dan takut terlukis di wajah ketujuh anak laki-laki itu. Apa daya? Karena takut dimarahi, mereka tak berani pulang ke rumah.

Sementara, di rumah, pria itu mulai merasa gelisah. “Apa yang sedang mereka kerjakan? Seharusnya mereka sudah kembali sejak tadi. Pasti mereka sedang bermain dan melupakan apa yang kuminta,” geramnya dalam hati.

Pria itu memandang bayi perempuannya yang menggeliat lemah di atas buaian. Semakin pria itu memandang bayi perempuannya, semakin geram hatinya. Dia ingin segera membaptis bayi perempuannya. Semakin lama, kegelisahan dan kegeraman hatinya semakin memuncak. Hingga akhirnya, “Biarlah ketujuh anak laki-lakiku berubah menjadi gagak!” kutuknya.

kisah tujuh pangeran gagak
gambar diambil dari www.pixabay.com

Baru saja pria itu selesai mengucapkan kata-kata kutukan itu, ia mendengar kelepak-kelepak saya burung di atas kepalanya. Seketika dia menengadahkan kepalanya dan melihat tujuh ekor burung gagak hitam terbang di angkasa. Bukan main terkejutnya hati pria itu. OHHH!!!..Sungguh pria itu merasa sesal. Sama sekali ia tak menyangka bahwa kutukannya tadi telah menjadi kenyataan. Bagaimana caranya untuk membatalkan kutukan itu? Ia tak memiliki kekuatan sihir apapun sebagai pengusir kutukan yang telah diucapkannya.

Istrinya juga merasa sedih. Bagaimana tidak? Ia juga kehilangan ketujuh anak laki-lakinya. Namun, kehadiran putri kecil yang  cantik mampu mengobati kesedihan yang mereka alami. Mereka menghibur diri dengan melihat pertumbuhan putri kecil mereka yang tumbuh sehat dari hari ke hari. Tidak seperti yang pernah pria dan istrinya itu bayangkan pada waktu kelahirannya dulu, putri mungil mereka kian hari bertambah besar dan semakin cantik.

Putri kecil itu tak pernah tahu bahwa ia memiliki tujuh orang kakak laki-laki. Orang tuanya tak pernah menceritakan rahasia itu kepadanya. Karena, orang tuanya tak ingin ia merasa menyesal dan bersedih karena merasa menjadi penyebab hilangnya ketujuh kakak laki-lakinya.

 

(bersambung ke sini)

 

 

 

Leave a Comment