Thumbelina (Bagian 4 – Tamat)

“Musim panas ini, engkau harus menjahit pakaianmu,” kata Tikus Sawah. Tetangganya, Si Tikus Tanah yang menyebalkan, telah meminang Thumbelina untuk menjadi istrinya. “Nanti, kau akan memiliki pakaian dari wol dan sutra. Kau akan memiliki segala-galanya.”

Sebelum Thumbelina menjahit pakaian, Tikus Sawah menyuruh empat ekor laba-laba untuk memintal benang dan menenunnya siang dan malam.

Setiap sore, Tikus Tanah datang berkunjung. Ia selalu bercerita tentang akhir musim panas di mana matahari sudah tiak begitu panas, saat perkawinannya dengan Thumbelina akan dilangsungkan. Thumbelina sama sekali tidak merasa senang. ia sama sekali tidak mencintai Tikus Tanah yang menyebalkan itu. Setiap pagi, di saat matahari terbit, dan setiap sore matahari terbenam, Thumbelina pergi ke luar. Bila angin menyibakkan pucuk-pucuk jerami, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa langit berwarna biru dan jernih. Sebenarnya ia sangat merindukan burung layang-layang. Tetapi, burung itu tak pernah datang lagi. Burung itu pasti sudah terbang jauh ke hutan.

Ketika musim gugur tiba, gaun pengantin Thumbelina sudah jadi.

“Empat minggu lagi, hari perkawinanmu” kata Tikus Sawah. Thumbelina menangis sambil berkata bahwa ia tidak menyukai Tikus Tanah yang menyebalkan itu.

“Apa?” tanya Tikus Sawah. “Kalau menolak, aku akan membunuhmu! Calon suamimu itu sangat hebat, bahkan ratu pun tidak memiliki beludru semacam itu. Ia punya dapur dan gudang anggur. Kau harusnya bersyukur karenanya.”

Pesta perkawinan akan segera dilangsungkan. Tikus Tanah datang menjemput Thumbelina. Sejak saat itu, ia harus tinggal dengan suaminya di dalam tanah. Ia tidak akan dapat lagi menikmati sinar matahari. Gadis malang itu benar-benar menderita. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada matahari yang indah. Di rumah Tikus Sawah, emskipun hanya sebentar, ia masih diizinkan melihatnya dari pintu.

“Selamat tinggal, matahari yang cemerlang!” kata Thumbelina sambil tangannya melambai ke udara. Ia beranjak beberapa langkah dari rumah Tikus Sawah sebab gandum sudah dituai dan yang tinggal hanya jerami-jerami kering. “Selamat tinggal! Selamat tinggal!” katanya sambil memetik setangkai bunga merah yang ada di situ. “sampaikan salamku untuk si burung layang-layang bila engkau melihatnya.”

“Cuit! Cuit!” tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon.

Thumbelina memandang ke langit. Ternyata itu suara si burung layantg-layang yag kebetulan lewat. Begitu ia melihat Thumbelina, ia sangat gembira. Thumbelina bercerita bahwa ia tidak mau menikah dengan Tikus Tanah yang menyebalkan. Thumbelina tidak mau hidup di dalam tanah dan tak akan penah melihat matahari lagi bila nanti ia menikah dengan Tikus Tanah. Thumbelina bercerita sambil menangis tersedu-sedu.

“Musim dingin akan segera tiba,” kata burung layang-layang. “Aku akan pergi ke tempat yang jauh. Maukah kau ikut bersamaku? Kau dapat duduk di atas punggungku. Ikatkan tubuhmu erat-erat dengan ikat pinggangmu pada punggungku. KIta akan terbang melintasi gunung-gunung yang tinggi sampai ke negeri yang panas. Di sana, matahari selalu bersinar. Di sana, cuaca selalu cerah. Di sana, bunga-bunga bermekaran. Ayolah! Ayo terbang bersamaku, Thumbelina! Kau telah menyelamatkan diriku saat aku tergeletak disana, di dalam lubang yang gelap, di dalam tanah.

“Ya, aku akan pergi bersamamu,” sahut Thumbelina, akhirnya. Lalu, Thumbelina naik ke punggung burung itu. Kakinya diletakkan pada sayapnya yang kuat. Diikatkannya badannya yang kecil pada sehelai bulu burung yang paling besar. Kemudian, burung layang-layang itu terbang tinggi di udara yang beku. Thumbelina menyusupkan badannya di bawah bulu burung yang hangat. Ia hanya melongokkan kepalanya bila ingin melihat pemandangan yang terbentang di bawah.

 

fantasy-1481625_1280

Tibalah mereka di suatu negeri yang panas. Matahari bersinar cerah. Langit biru tampak sangat tinggi. Di sepanjang sungai-sungai kecil dan di atas pagar yang mengelilinginya seolah dihiasi oleh buah-buah anggur yang berwarna hijau dan ungu. Di hutan-hutan tumbuh bermacam jenis pepohonan dan rumpun yang menyebarkan wangi semerbak. Di jalan-jalan, anak-anak kecil berlarian, bersenda gurau dengan kupu-kupu yang beraneka warna.

Burung layang-layang terbang semakin jauh lagi. Pemandangan yang terlihat semakin indah. Di bawah pepohonan hijau yang besar-besar, di tepi laut biru, nampak sebuah puri kuno yang terbuat dari batu marmer. Warnanya putih berkilauan. Dahan-dahan anggur membelit tiang-tiang puri yang tinggi. Pada bagian atas tiang, terdapat sejumlah sarang burung layang-layang. Salah satunya adalah sarang burung layang-layang yang membawa Thumbelina.

“Inilah rumahku,” kata burung layang-layang itu. “Kalau kau ingin tinggal di salah satu bunga indah yang tumbuh di bawah, aku akan membawamu ke sana. Kau pasti akan senang di sana.”

“Bagus sekali! Aku mau,” seru Thumbelina gembira sambil bertepuk tangan.

Di bawah, ada batu marmer putih yang jatuh dan pecah menjadi tiga bagian. Di antara pecahan batu marmer itu, tumbuh bunga-bunga indah yang berwarna putih. Burung layang-layang itu kemudian terbang ke sana. Ia meletakkan Thumbelina di atas bunga yang paling besar. Oh! Betapa terkejutnya Thumbelina. Seorang pemuda kecil sedang duduk di tengah-tengah bunga. Ia begitu putih dan jernih, seakan terbuat dari kaca. Kepalanya mengenakan mahkota emas yang indah. Di pundaknya terdapat sayap-sayap elok yang bening. Ia tidak lebih besar dari Thumbelina. Ia adalah Peri Bunga. Yup! Dalam setiap bunga terdapat peri semacam itu. Peri laki-laki dan peri perempuan. Tapi, yang Thumbelina lihat ini adalah raja dari para peri itu.

fairy-1151743_1280

“Ia sangat tampan!” bisik Thumbelina pada burung layang-layang.

“Ia adalah Raja Peri Bunga,” kata Burung Layang-layang memberitahu.

Raja Peri Bunga ketakutan melihat burung layang-layang itu karena dirinya yang begitu kecil, sangat kecil bila dibandingkan dengan burung layang-layang itu. Kemudian, Raja Peri Bunga melihat Thumbelina, dan ia pun terpesona. Thumbelina adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya. Ia segera melepas mahkota dari kepalanya dan menanyakan nama gadis itu. Kemudian, ia meletakkan mahkotanya di atas kepala Thumbelina sambil bertanya, “Wahai, Gadis Cantik! Bersediakah kau menjadi istriku?”

Thumbelina sangat terkejut. Ia tak menyangka sama sekali akan ditanya tiba-tiba seperti itu oleh Raja Peri Bunga. Seketika wajah Thumbelina merona merah muda. Ia terkejut sekaligus sangat bahagia. Ia adalah calon suami yang selalu diimpikan oleh Thumbelina. Tidak seperti Katak atau Tikus Tanah yang pernah berniat memperisterinya. Raja Peri Bunga ini sangat tampan dan terlihat budi baiknya.

“Ya,” jawab Thumbelina sambil tersenyum bahagia. Seketika muncullah para peri dari setiap bunga. Peri laki-laki dan peri perempuan. Mereka semua begitu elok. Suatu pemandangan yang sangat indah. Masing-masing peri memberikan sebuah bingkisan kepada Thumbelina. Bingkisan yang paling indah berupa sepasang sayap putih yang besar. Sayap-sayap itu kemudian dipasang di punggung Thumbelina. Ia kini dapat terbang dari satu bunga ke bunga yang lain.

Sementara, di dalam sarangnya, Si Burung Layang-layang bernyanyi dengan suara merdu. Namun, di dalam hatinya ia merasa sedih. Sebenarnya, ia sangat mencintai Thumbelina dan tak ingin berpisah darinya. Tapi, ia pun sangat senang melihat Thumbelina kini dapat hidup aman, tenteram, dan bahagia.

“Selamat tinggal.. Selamat tinggal,” lirih burung layang-layang dengan sedih. Kemudian, ia terbang meninggalkan negeri yang panas menuju ke negeri yang jauh.

“Kini, kau tak lagi bernama Thumbelina,” ujar salah satu peri bunga. “Nama itu terlalu buruk padahal kau sangatlah cantik. Mulai saat ini, kami akan memanggilmu ‘Maya’.”

Thumbelina kemudian menjadi Ratu Peri Bunga dan hidup bahagia.

fairy-tales-877250_1280

 

Leave a Comment