Pelukis Yang Cerdik

Alkisah, ada seorang raja yang gemar berburu. Matanya buta sebelah akibat suatu kecelakaan yang dialaminya dalam suatu perburuan. Sejak saat itu, ia menjadi amat perasa. Hatinya mudah tersinggung. Apalagi jika ia mendengar orang lain membicarakan cacat matanya. Seseorang yang menyinggung perasaan Raja pasti akan dijatuhi hukuman berat.

Sang Raja tidak mau memakai kacamata atau penutup mata seperti yang dipakai oleh bajak laut. Oleh sebab itu, wajahnya jadi terlihat ganjil tapi tak seorang pun yang berani membicarakannya, apalagi sampai menertawakannya.

Raja memiliki seorang sahabat karib. Seorang pelukis ulung yang bernama Antonio. Keduanya telah menjalin hubungan persahabatan sejak masih anak-anak. Namun, entah mengapa, tanpa alasan, Sang Raja memendam rasa benci kepada Antonio. Raja selalu mencari kesempatan untuk menjerumuskan pelukis itu ke balik terali besi.

Suatu hari, Raja mengajak Antonio pergi berburu. Dengan bedil tersandar di pundak, Raja mengendarai kuda putihnya ke hutan. Sebuah pipa cangklong tak pernah lepas dari bibirnya. Di perjalanan, berkatalah Raja, “Antonio, aku ingin agar kau melukisku. Lukisan yang terakhir dulu sudah berbeda dengan keadaanku sekarang.”

Antonio merasakan ada suatu keinginan Raja yang tersembunyi di balik perintah itu. Namun, tanpa menyangkal, ia pun menjawab, “Baiklah, Yang Mulia.”

Antonio berpikir, jika ia melukisnya, maka ia harus menggambar apa adanya. Tentunya dengan mata kiri terpejam. Hal ini pasti akan membuat Raja murka sehingga Raja memiliki alasan untuk menjebloskannya ke penjara.

Raja bertanya lebih lanjut, “Bagaimana kira-kira cara kau akan menggambarkanku?” Sesungging senyuman aneh menghias bibir Raja.

Antonio cepat mendapat gagasan. Ia menjawab, “Hamba akan menggambarkan wajah paduka dari samping seperti yang biasa kita lihat pada mata uang. Sisi kiri wajah Paduka sangat bagus. Dan, hamba jamin, lukisan itu nanti akan menjadi lukisan potret Paduka paling indah yang pernah dibuat orang.”

Tetapi, Raja menjadi geram. Cetusnya, “Tidak. Kau harus menggambarku dari depan. Kau harus meraut wajahku.” Raja menatap Antonio dengan tajam.

“Baiklah, Yang Mulia,” sahut Antonio tanpa sedikit pun membantah.

Sepulang dari berburu, Antonio mulai menggarap lukisannya. Mula-mula ia membuat sketsa wajah Raja di atas kertas. Kemudian, sketsa itu dipindahkannya ke kanvas. Kemudian, Antonio memulai lukisan yang sebenarnya. Pengerjaan lukisan itu dilakukan di sanggar prbadinya. Selama tiga bulan ia menutup diri. Tak seorang pun boleh melihatnya ketika ia bekerja. Ketika lukisan itu selesai, ia melapor pada Raja.

Esok harinya, disertai sejumlah pejabat tinggi, para bangsawan serta sejumlah pengawal, Raja mengunjungi sanggar Antonio. Di ruang pameran, berdiri sebuah lukisan Sang Raja yang ditutup sehelai kain putih.

Raja menyuruh seorang pengawal membuka selubung putih itu. Dengan hati berdebar-debar, pengawal itu pun membukanya. Ketika penutup terbuka, tampak sebuah lukisan Raja dari depan, berdiri lengkap dengan pakaian berburu di sisi kuda putihnya yang setia. Gayanya seorang pemburu besar yang sedang membidik sasarannya dengan moncong senapan terarah ke depan. Mata kirinya tertutup rapat. Sementara, mata kanannya mengintip di belakang laras senapan.

Raja memandangi lukisan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pipa cangklongnya terlepas dari bibirnya. Suasana hening sejenak.

Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh gelak tawa Raja, “Ha..ha..ha..!!..Temanku, kau pasti telah bisa menebak jalan pikiranku. Maaf, aku telah berniat buruk terhadapmu. Lupakan itu semua.” Raja pun menepuk-nepuk bahu Antonio.

Lukisan yang bagus itu akhirnya ipajang di ruang paling terhormat di istana. Setiap kali memandang lukisan itu, Raja teringat pada Antonio, sahabatnya, yang nyaris ia jatuhi hukuman berat. Sifat Raja sejak saat itu berubah. Ia menjadi raja yang pengampun juga periang.

^_^

 

Leave a Comment