Sekantung Biji Gandum

Pada zaman dahulu, tersebutlah seorang lelaki tua yang kaya raya. Sudah lama ia ditinggal mati istrinya dan tidak menikah lagi. Mungkin karena ia masih sangat mencintai istrinya.

Lelaki tua itu memiliki tiga orang putera. Si Sulung bernama Harak, yang tengah bernama Lahap, dan yang bungsu bernama Ahmad. Ketiga putera itu memiliki sikap dan sifat yang berbeda-beda.

Harak begitu senang menghambur-hamburkan uang di meja judi. Lahap senang berfoya-foya. Si Bungsu Ahmad memiliki sifat yang sangat baik danterpuji. Ia tidak meniru tabiat kedua kakaknya yang sering menghambur-hamburkan uang. Ia lebih senang bekerja membantu ayahnya di ladang ataupun kebun. Tidaklah mengherankan kalau ayahnya sangat mencintai Si Bungsu. Dan, tentu saja, kedua kakaknya tidak senang akan sikap Sang Ayah yang dianggap mereka telah pilih kasih itu.

Pada suatu hari, lelaki tua itu jatuh sakit. Merasa jiwanya tidak akan dapat tertolong lagi, maka dipanggillah ketiga anaknya. Harak dan Lahap sudah berada di sisi ayah mereka yang terbaring sakit. Tinggal  Ahmad yang belum hadir. Ia masih bekerja di ladang. Betapa senang hati Harak dan Lahap sebab mereka akan mendapat harta warisan yang banyak bila ayah mereka meninggal.

Berkata Sang Ayah kepada mereka, “Di manakah anakku Ahmad, Nak?” tanyanya kepada Harak dan Lahap dengan suara yang tersendat-sendat.

“Ahmad sedang pergi ke kota untuk berfoya-foya,” jawab Harak berbohong.

“Benar, Ayah. Ahmad sedang berjudi di kota,” tambah Lahap.

Tentu saja, lelaki tua itu tak memercayai perkataan kedua anaknya ini.

“Baiklah kalau begitu,” katanya. “Ayah akan segera membagikan harta warisan sebab ayah tak akan hidup lebih lama lagi.”

Dengan harap-harap cemas, Harak dan Lahap ingin segera mendengarkan perkataan ayah mereka lebih lanjut.

“Begini, anak-anakku,” katanya, “Setengah dari harta kekayaanku akan kuserahkan pada Si Bungsu Ahmad. Dan, yang setengah lagi kalian bagi dua.”

Tak lama kemudian, lelaki tua yang kaya raya itupun meninggal dunia. Tentu saja, Harak dan Lahap tidak menerima keputusan ayah mereka yang jelas-jelas sangat menguntungkan Ahmad. Mereka mencari akal untuk menjatuhkan Si Bungsu.

Kemudian, ditulislah surat wasiat palsu, yang isinya Harak menerima harta warisan berupa rumah besar dan kebun yang luas; Lahap mendapat seluruh emas permata dan perhiasan-perhiasan berharga lainnya. Seluruh uang mereka bagi berdua. Sedang Ahmad hanya mendapatkan sekantung biji gandum dan sebidang tanah yang tidak begitu luas. Surat wasiat palsu itu dibuat sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan tulisan ayah mereka.

Tak lama setelah itu, datanglah Si Bungsu Ahmad dari ladang. Begitu sedih dan terpukul batinnya saat mendapati ayahnya sudah tiada. Ia menangis di hadapan jasad ayahnya yang telah terbujur kaku. Ketika itu pula, Harak dan Lahap memerlihatkan surat wasiat palsu.

“Nah, karena kau tidak mendapatkan harta warisan apa-apa selain sekantung biji gandum dan sebidang tanah yang tidak begitu luas, kau harus meninggalkan rumah ini sekarang juga. Karena, rumah ini sekarang milikku,” kata Harak dengan penuh kemenangan.

Si Bungsu Ahmad menerima semua keputusan itu. Ia percaya. surat wasiat itu benar-benar ditulis oleh ayahnya. Setelah pemakaman ayahnya, Ahmad pun pergi meninggalkan rumah besar dengan membawa harta warisan berupa sekantung biji gandum. Ia belum memastikan secara pasti ke mana ia akan pergi.

Kemudian, ia teringat akan sebidang tanah yang letaknya sangat jauh sebagai harta warisan yang tertulis dalam surat wasiat itu. Ia kemudian menuju ke sana. Sebaiknya, biji gandum ini kutanam di tanah itu, pikirnya dalam hati.

Setelah sampai di tempat tujuan, mulailah Ahmad bekerja dengan tekun. Ia mulai menggarap tanah yang tidak terlalu luas itu. Karena ia sudah terbiasa bekerja keras, maka tanah garapan itu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Selesai menggarap tanah, ia pun segera menaburkan biji-biji gandum itu dengan teratur rapi.

Dari hari ke hari, hasil kerja kerasnya semakin terlihat hasilnya. Tanaman gandum tumbuh dengan suburnya. Tak lama berselang, karena pemeliharaannya yang teratur, ia sudah dapat menikmati panen gandum pertama dengan hasil yang tentu saja sangat memuaskan. Gandum yang tadinya hanya sekantung kini telah beratus-ratus kali lipat banyaknya. Ahmad tidak hanya sampai di situ. ia memulai lagi menggarap tanahnya untuk ke dua kalinya dengan tekun hingga ia dapat menikmati panen ke dua.

Beberapa tahun kemudian, Ahmad telah menjadi seorang petani gandum yang kaya raya. Meski demikian, ia tidak menjadi sombong ataupun kikir. Malah, semakin kaya, ia malah semakin sering berderma, membantu orang-orang miskin. ia pun banyak mempekerjakan orang di kebun-kebun gandum miliknya yang kini semakin bertambah luas. Ia menggaji para pekerjanya dengan imbalan yang sesuai berat-ringan pekerjaannya. Ahmad telah menjadi seorang kaya yang penderma.

Musim paceklik tiba. Bahan-bahan makanan, terutama gandum, sangat sulit didapatkan. Kelaparan melanda. Di mana-mana orang mencari bahan makanan tersebut yang sangat sulit didapat. Untunglah, Tuan Ahmad yang kaya raya dan penderma itu memiliki persediaan gandum berpeti-peti banyaknya.

Di saat paceklik, Ahmad membagi-bagikan gandumnya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Maka, berbondong-bondonglah orang yang dtengah kelaparan ke rumahnya meminta bahan makanan secara gratis. Ahmad yang murah hati sama sekali tidak berkeberatan. Ia merasa senang karena telah dapat menolong banyak orang yang sedang kelaparan akibat musim paceklik yang berkepanjangan.

Pada suatu hari, datanglah dua orang pengemis yang sangat kelaparan. Pakaian keduanya compang-camping. Tubuh mereka sangat kurus. Mereka berdua sengaja datang ke rumah Ahmad untuk meminta sedekah. Ketika Ahmad melihat kedua pengemis itu, ia tersentak kaget, “Kak Harak! Kak Lahap! Dari mana saja kalian? Ahmad sangat rindu kepada kalian,” tambah Ahmad tulus.

“Maafkan kami berdua, Ahmad!” Kami selama ini menjalani hidup sesat. Hidup dalam kemaksiatan. Harta kami habis percuma karena tabiat kami yang buruk,” kata Si Sulung Harak sambil menangis tersedu-sedu.

“Kami….telah menipumu, Ahmad,” sela Lahap. “Sebenarnya surat wasiat itu palsu. Kamilah yang telah membuat surat wasiat itu,” sambungnya dengan nada yang penuh dengan penyesalan.

“Ahhh..Kakak-kakakku. Jangan pikirkan semua itu,” bujuk Ahmad. “Yang penting, saat ini, kita telah bertemu dan dapat bersama-sama lagi. Mulai hari ini, kita garap ladang gandum kita bersama-sama agar hasilnya lebih banyak lagi.”

Harak dan Lahap sangat menyesal dan mengakui kesalahan mereka. Mereka berjanji akan menghilangkan semua sikap buruk mereka. Mereka bertekad akan hidup teratur dan mulai bekerja keras seperti Ahmad.

 

^_^

 

 

 

 

 

Leave a Comment