Mau Untung Malah Buntung

Dahulu kala, di Bangkok, hidup seorang laki-laki bernama Phra Chamnan. Ia adalah seorang saudagar permata yang terbaik di negerinya. Ia dapat memastikan harga setiap batu permata. Tak mengherankan bila pangeran, para bangsawan, juga para orang kaya-orang kaya yang menjadi pelanggannya.

Di sana juga, tinggal seseorang yang bernama Nai Kroh Dee. Ia miskin dan tidak bersekolah. Ia mengenal Phra dan sering berkunjung ke rumahnya.

Suatu hari, Kroh Dee menemukan sekeping kaca yang bagus bentuknya. Setelah ia perhatikan dengan seksama, kaca itu menyerupai sebuah berlian yang besar. Kroh Dee membungkus kaca itu dengan kain dan membawanya ke Phra. Katanya, “Aku membawa sebutir berlian yang sudah berada di keluargaku turun temurun selama 100 tahun. Ketika meninggal, Ibu meninggalkannya kepadaku. Aku sangat miskin dan butuh uang. Karena itu, aku membawa berlian ini kepadamu agar engkau sudi menjualkannya.” Seraya berkata demikian, Kroh Dee membuka kain pembungkus berlian itu dan menyerahkannya kepada Phra.

Phra tertawa terbahak-bahak ketika melihat berlian itu. Katanya, “Aku tahu kamu mau menipuku. Ini hanyalah sekeping kaca.”

Tapi, Kroh Dee menyangkal dan mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa berlian itu adalah berlian asli dan merupakan warisan ibunya. Ia memohon kepada Phra agar diijinkan untuk menitipkan berliannya. Dan, jika ada kesempatan, minta tolong untuk dijualkan.

Phra pun menyetujui dan menanyakan berapa harga yang diinginkan. Ketika Kroh Dee menjawab 10 chang, kembali Phra tertawa terbahak-bahak.

“Mahal sekali! Mungkin seseorang mau membeli berlian itu hanya seharga 1 tuang untuk diikatkan pada seekor kucing,” katanya dengan nada sinis. “Tapi, kalau kau bersikeras, yah..baiklah. Tapi, aku tidak berjanji untuk bisa menjualnya,” tambahnya.

Kroh Dee pun pergi meninggalkan toko Phra.

Tiga bulan kemudian, Phra sudah lupa mengenai berlian yang dititipkan Kroh Dee. Hingga suatu hari, seorang Lao datang mengunjunginya. Ia ingin membeli sebutir berlian yang baik sebagai hadiah untuk istrinya. Ia meminta Phra untuk memperlihatkan berliannya yang terbaik.

Leo memerhatikan dengan teliti. Ia memuji berlian tersebut tapi ia melihat berlian itu terlalu kecil sedangkan ia menginginkan berlian yang lebih besar. Phra agak jengkel pada mulanya tapi tiba-tiba ia ingat akan berlian Kroh Dee. Ia ragu sejenak untuk membawa keluar berlian tersebut, takut namanya akan menjadi buruk; mengatakan sekeping kaca sebagai sebutir berlian. Akan tetapi, Phra melihat Lao tidak begitu paham perihal batu permata, maka ia bawa keluar berlian itu.

Lao melihat berlian itu dan menyukainya. Ia menanyakan harganya dan akan membelinya, jika tidak terlalu mahal.

Phra berpikir sejenak dan berkata pada dirinya sendiri, “Kroh Dee menginginkan 10 chang, dan biasanya aku dapat menjual berlian sebesar ini seharga 20 chang. Orang ini agak tolol, pasti ia akan bayar seberapa yang aku minta.”

Kemudian, Phra memberitahukan harganya. Lao menganggap itu harga yang pantas. Tapi, saat itu, ia hanya memiliki 5 chang. Lao kemudian membayar 5 chang, sedangkan sisanya akan dibayar di akhir minggu. Setelah itu, berlian baru diambil. Phra menyetujuinya.

“Tapi, lebih baik kita buat surat perjanjian,” tambah Lao, “Jika aku tidak datang di akhir minggu, maka uangku yang 5 chang menjadi milikmu. Tapi, jika aku datang untuk melunasi sisanya, dan ternyata berlian itu sudah kau jual, maka kau harus mengembalikan uang saya serta ditambah 5 chang lagi.” Hal ini pun disetujui oleh Phra dan menandatangani surat perjanjian tersebut.

Dua hari setelah itu, Kroh Dee datang mengunjungi Phra. Ia menanyakan apakah berliannya sudah laku terjual. Jika belum, ia akan mengambil berlian itu kembali. Phra sedikit terkejut mendengarnya. Karena jika ia mengembalikan berlian itu kepada Kroh Dee, berarti ia akan rugi 5 chang. Jadi, jalan yang terbaik membeli berlian Kroh Dee karena ia akan untung 10 chang, pikirnya. Phra pun mengutarakan maksudnya.

Kroh Dee terkejut mendengarnya. Katanya, “Kau sendiri yang mengatakan berlianku hanya pantas untuk seekor kucing! Mengapa sekarang kau mau membelinya?”

“Oh, sekarang aku sudah mengubah pikiranku. Berlianmu cukup baik dan saya akan membelinya,” balas Phra.

Kroh Dee pun menjual berlian itu pada Phra.

Phra berpikir, ia telah melakukan hal yang hebat. Dan, ia pun menanti dengan sabar kedatangan Lao. Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh hari berlalu, tapi Lao belum muncul juga. Phra mulai gelisah, meskipun ia mendapat 5 chang, tapi ia telah membayar Kroh Dee 10 chang. Jadi, aku masih rugi 5 chang, pikir Phra dalam hati.

Hari terus berlalu tanpa ada tanda-tanda akan kedatangan Lao. Phra pun menyadari, ia telah ditipu oleh Kroh Dee. Ia seorang saudagar permata terbaik di negerinya telah membayar 10 chang hanya untuk sekeping kaca. Tapi, jika ia menceritakan hal ini kepada orang lain, maka seluruh kota akan menertawakannya. Phra pun akhirnya hanya bisa menutup mulut sambil menanti kedatangan Lao. “Gara-gara sekeping kaca aku jadi¬†mengabui mata orang..Mau untung, malah buntung,” sesalnya dalam hati.

 

^_*

 

 

 

 

 

Leave a Comment