Masak, Yuk?

2016-02-17_10.23.50

Memasak sendiri?

Kenapa tidak.

Bagi sebagian orang, memasak adalah hal yang biasa. Tetapi, bagi yang lain mungkin luar biasa. Alasannya, selain sulit, takut tidak enak, atau alasan lainnya.

Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa memasak itu adalah sesuatu yang sukar dan rumit. Pertama yang terbayang adalah aneka jenis perlengkapan dapur yang harus dimiliki, disiapkan, lalu dicuci seusai masak. Belum lagi menyiapkan dan meramu bahan dasar dengan beraneka macam rempah dan bumbu.

Aduh, sungguh  merepotkan!

Apalagi bagi mereka yang penuh dengan kesibukan.  

Mengapa harus memasak sendiri? Bukankah lebih mudah memilih dan membeli langsung? Apalagi sekarang banyak dijumpai rumah-rumah/kedai-kedai/toko-toko yang menyajikan berbagai menu makanan? Daripada menghadapi resiko kegagalan, seperti keasinan, gosong, dan lain sebagainya.

2016-02-17 11.08.20

Pendapat tersebut dapat dibenarkan meskipun memasak sendiri sebenarnya mudah. Memang, membutuhkan banyak kesabaran. Tapi, sebenarnya, tak perlu kuatir dengan kegagalan yang mungkin saja terjadi. Kegagalan pasti akan pernah dialami setiap orang. Tanpa pernah memraktekkannya dan mengalami sendiri kegagalan, bukankah tak akan pernah ada ungkapan ‘alah bisa karena biasa‘?. 😉

 

Saya termasuk ke dalam kelompok yang beranggapan bahwa memasak adalah sesuatu yang luar biasa karena takut tidak enak. 😀 Tapi, lama kelamaan, proses meramu aneka bahan dan bumbu hingga menjadi makanan itu menimbulkan kesenangan tersendiri bagi saya. Saya sendiri baru dalam tahap belajar tapi saya merasa banyak dampak positif yang bisa saya ambil dari kegiatan satu ini.

2016-02-17_10.25.06

Dibanding membeli, memasak sendiri bisa lebih hemat, menurut saya. Memang, tak ada salahnya sesekali makan di luar rumah bersama keluarga. Tapi, jika itu kemudian dijadikan gaya hidup sehari-hari, tentu akan banyak dampak negatif yang didapat. Salah satunya, kita menjadi lebih boros. Bisa kita bayangkan, harga 2 potong ayam tepung yang kita beli dari satu gerai cepat saji hampir sama harganya dengan ayam potong mentah sebanyak 1 kg. 😀 

Meski kita tidak bisa menjamin kebersihan dapur kita seluruhnya bebas dari kuman tapi setidaknya, ketika memasak, kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk mengolah masakan dalam keadaan bersih. Seperti, mencuci peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan terlebih dahulu sebelum kita mengolah masakan.

Selain lebih bisa menjaga kebersihan, dengan memasak sendiri kita juga bisa memilih bahan-bahan yang layak dan yang tak layak untuk kesehatan. Misal, kita bisa menghindari penggunaan minyak goreng yang berulang; menghindari penggunaan bahan-bahan kimiawi, seperti MSG, pemanis buatan, pengawet; mengurangi penggunaan garam dapur yang berlebih; dsb.

Memasak sendiri juga bisa melatih kita untuk lebih kreatif. Terkadang, langsung terlintas suatu masakan dalam pikiran  ketika mendapati beberapa macam bahan masakan yang tersedia di dapur. Atau, dengan memanfaatkan bahan yang ada, bisa menjadi satu menu baru yang istimewa.

Untuk hiburan. Yup, memasak bagi saya bisa dijadikan sebagai salah satu hiburan. Terkadang, ketika hati terasa penat, saya ‘ngobrak-ngabrik‘ dapur. Meramu bahan-bahan yang ada saat gelisah melanda ternyata sangat membantu bagi saya. Emosi saya yang sedang tak keruan luruh ketika meracik bahan dan bumbu. Hasilnya? Dari rasa gundah bisa tercipta satu atau dua makanan yang menggoda selera dan menggoyang lidah. 😉

20160217_095054

Setiap orang memiliki lidah dan selera yang berbeda-beda. Sering memasak dan mencoba beraneka resep melatih saya untuk peka terhadap rasa dan selera. Menurut saya, ketika memasak, kita harus memiliki ‘perasaan terhadap hal itu‘. Bisa jadi dalam resep disebutkan sesendok teh gula pasir atau garam tapi mungkin, sebenarnya yang dimaksudkan adalah sejumput atau sedikit sekali. Bagi kita atau mereka yang memasak selalu punya rahasia kecil tapi sangat penting yang membuat hasil akhir dari suatu masakan menjadi berbeda.

Tak sedikit resep yang saya coba praktekkan. Tak sedikit pula yang mengalami kegagalan. Pada awalnya, mungkin, banyak cela daripada pujian yang saya terima dari keluarga. 😀 Tapi, itu tak membuat saya berkecil hati. Terkadang, cela yang dilontarkan selanjutnya akan menjadi kelakar yang selalu dikenang sepanjang waktu. Contohnya, ketika saya mencoba membuat roti. Adik saya menyebutnya ‘tongkat penggebuk maling‘ karena roti yang saya buat teksturnya keras seperti kayu. 😀 Dan, kata ‘tongkat penggebuk maling‘ itu selalu disebut setiap saya berniat membuat roti. :-)) Tapi, tokh, itu tak menjadi masalah. Justru, kelakar yang berbungkus cemooh itu memacu saya untuk membuktikan bahwa saya bisa membuat lebih baik.

Tapi, tak juga bisa dipungkiri, ketika akhirnya masakan kita disukai. Rasa senang diam-diam menyelinap di sudut hati; segala rasa lelah yang terkumpul seakan luruh ketika masakan kita habis disantap tak bersisa. Apalagi disertai dengan puja dan puji dari keluarga yang dicintai. 😉

Jadi, tunggu apalagi?

Masak, yuk?..

 

^_^

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment