Hipertensi Itu Apa, Sih? (bag. 1)

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang menetap. Tekanan darah bagian atas adalah tekanan darah sistolik, sedangkan bagian bawah adalah tekanan diastolik. Tekanan sistolik (bagian atas) adalah tekanan puncak yang tercapai pada waktu jantung berkontraksi dan memompakan darah melalui arteri. Sedangkan, tekanan diastolik (bagian bawah) adalah tekanan pada waktu jatuh ke titik terendah saat jantung mengisi darah kembali atau disebut juga tekanan arteri di antara denyut jantung.

Sambil berjalan menuju rumah sepulang dari warung soto, saya teringat kembali percakapan tentang hipertensi dengan dokter di Puskesmas beberapa hari lalu.

Ruang tunggu Puskesmas hari itu dipenuhi pasien dari segala tingkatan usia. Dari balita hingga lanjut usia. Suara tangisan para balita di gendongan ibunya terdengar di semua penjuru ruangan. Sesekali  terdengar suara batuk dan bersin dari pasien yang lain.

blood-pressure-1006791_1280

Cuaca di Bogor belakangan ini memang berpengaruh buruk pada kesehatan. Panas yang menyengat di pagi sampai siang berganti hujan deras dan angin yang kencang di sore hari membuat  tubuh cenderung mudah terserang penyakit. Tak heran, menurut beberapa tetangga, hari-hari belakangan ini, Puskesmas selalu penuh sesak dipenuhi para pasien yang ingin berobat.

Pagi itu, saya pergi ke Puskesmas terdekat. Saya berniat untuk berkonsultasi dengan dokter mata. Ternyata, sejak beberapa bulan lalu, tidak lagi ada dokter mata yang praktek di Puskesmas itu. Alih-alih berniat konsultasi dengan dokter mata, saya dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter umum yang saat itu bertugas.

Setelah melakukan registrasi, saya mengambil tempat duduk yang masih tersedia. Sambil menunggu, sesekali saya mendengarkan obrolan beberapa pasien yang mengeluhkan penyakit yang dideritanya. Dokter Umum yang bertugas hari itu ada 2 orang.

Dokterna dua,’ ujar seorang Ibu di depan saya kepada seorang Ibu yang baru datang

‘Ohhh.., nu ieu dokter saha?’ tanya Ibu yang baru datang tadi sambil menunjuk pintu kamar sebelah kiri

Eta.. Dokter nu lalaki tea..Nu galak..Sok lila mun mariksana,‘ jawab Ibu itu

Ari nu eta?‘ tanya Ibu itu lagi sambil menunjuk kamar di sebelahnya.

Ari eta nu awewe. Nu geulis tea,‘ jawab Ibu itu lagi

Ohhhh..,‘ jawab Ibu lainnya sambil mengangguk-anggukan kepala

Ruang tunggu mulai sepi. Sekitar 2 jam saya menunggu sampai akhirnya tiba giliran saya dipanggil. Saya mendapat Dokter yang dua Ibu tadi perbincangkan; lelaki, galak, dan lama kalau memeriksa. 😀

Setelah mendengar niat awal saya untuk berkonsultasi dengan dokter mata, Dokter ini pun kemudian melakukan pemeriksaan. Tak galak ternyata. Mulai dari tekanan darah, juga beberapa tes untuk mata. Sampai akhirnya, Sang Dokter memberitahu bahwa kemungkinan besar ‘min’ pada mata saya bertambah. Tapi, ternyata Sang Dokter lebih menaruh perhatian pada tekanan darah saya.

Mba, tekanan darahnya tinggi, nih..Emang biasa tinggi, ya?‘ tanyanya lembut.

Hmmm..sekitar sebulan yang lalu, saya emang diperiksa, Dok..139,‘ jawabku, ‘Emang yang sekarang berapa, Dok?‘ sambungku.

Sekarang 150..150/90..Hmmm..Ati-ati, lho, Mba..harus rajin di-cek,’ katanya.

Saya agak termangu. Hiks, saya hipertensi?..:’)

Sekarang, saya belum ngasih obat..Tapi, minggu depan, datang lagi, ya..Biar diliat..Kalo masih tinggi, berarti harus dikasih obat,‘ kata Sang Dokter sambil menuliskan sesuatu di buku catatan pasien.

Baik, Dok,‘ jawab saya lemas.

Bahaya, lho, Mba..Tekanan darah tinggi kadang ga disadari. Tau-tau si penderita beresiko fatal,‘ katanya lagi.

Lalu..benar kata dua Ibu tadi. Dokter ini memang lama kalau memeriksa. Saya jadi mengalaminya. 😀 Selama hampir setengah jam saya seperti mendapat kuliah singkat tentang hipertensi. 😀 Mungkin, salah satunya juga, karena Sang Dokter tahu bahwa saya adalah pasien terakhirnya, maka Sang Dokter merasa leluasa untuk menerangkan lebih lengkap ‘apa itu hipertensi?’. Kurang lebihnya, ini yang saya dapat tentang hipertensi dari Dokter yang ternyata tidak galak itu. 😀

Secara sederhana, seseorang disebut hipertensi apabila tekanan darah sistolik di atas 140mm/Hg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90mm/Hg. Tekanan darah yang ideal adalah 120/80mm/Hg.

Menurut penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu hipertensi primer/hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah suatu kelainan fungsi dari sistem saraf  yang mengendalikan tekanan darah. Tidak jelas penyebabnya dan merupakan sebagian besar dari seluruh kejadian hipertensi.

Hipertensi sekunder penyebabnya dapat diketahui, seirng berhubungan dengan beberapa penyakit. misalnya ginjal, jantung koroner, diabetes, dan kelainan sistem saraf pusat.

Lebih lanjut, Dokter yang ternyata tidak galak itu menjelaskan bahwa terkadang, seseorang dengan hipertensi sering tidak menyadari sedang mempunyai masalah. Padahal, hipertensi bila tidak dikontrol dapat berbahaya dan beresiko terkena stroke, penyakit jantung, dan pembuluh darah, gangguan retina mata, ginjal, dan bahkan dapat berakibat fatal. Maka dari itu, pengontrolan hipertensi sangat penting untuk mencegah beberapa penyakit tersebut.

Dokter muda itu juga menjelaskan beberapa keadaan yang bisa mempengaruhi peningkatan tekanan darah.  Di antaranya, pengaruh konsumsi garam, pengaruh hormon, pengaruh pola makan, dan pengaruh berat badan, dan stress.

Menurut Dokter yang ramah itu konsumsi garam merupakan hal yang sangat penting pengaruhnya terhadap hipertensi.  Masyarakat yang mengonsumsi garam tinggi (sekitar 5-15 gram sehari) ternyata mempunyai kecenderungan hipertensi yang besar. Sedangkan, pada masyarakat yang mengonsumsi garamnya rendah (sekitar 3 gram sehari) memiliki kecenderungan hipertensi yang kecil, begitu juga pada masyarakat vegetarian. Program untuk mengontrol hipertensi, termasuk pengurangan konsumsi garam, ternyata dapat menurunkan tekanan darah pada beberapa individu.

Faktor stress juga ternyata memiliki hubungan terhadap hipertensi. Stress yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan darah menetap tinggi. Ada beberapa cara untuk mengatasi stress dengan tujuan mendapatkan keadaan relaksasi, antara lain dengan meditasi, yoga, dan hipnosis. Kesemuanya dimaksudkan untuk dapat mengontrol sistem saraf sehingga dapat menurunkan tekanan darah.

OK..Saya rasa sekian dulu, ya, Mba. Jangan lupa, minggu depan datang lagi, ya. Kalo ada waktu, nanti, saya sambung lagi soal hipertensinya. he..he..Mudah-mudahan, tekanan darahnya ga tinggi lagi. Jadi, saya ga perlu ngasih obat,’ ujar Dokter yang baik hati itu menutup pembicaraan sambil tersenyum ramah.

Oh, Oke, Dok. Iya, saya juga ga mau lah kalo hipertensi, mah. Makasih, ya, Dok,‘ sahutku sambil berpamitan.

Hari itu, setidaknya, saya jadi tahu sedikit banyak tentang hipertensi. Mudah-mudahan, ketika diperiksa nanti, tekanan darah saya sudah tinggi lagi. Aamiin

 

^_^

bersambung ke sini

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment